Kamis, 09 April 2020

Menyuruh Anak Berbelanja Ke Warung ?






”Ani, tolong ibu dibelikan sesuatu di warung sebelah ya, Nak!” pinta seorang ibu.

”Baik,Bu. Beli apa saja?” tanya Ani gadis kecil itu.

”Beli gula setengah kilogram, minyak satu liter, tepung terigu setengah kilogram, telur setengah kilogram,” kata ibu.

”Baik,Bu,” jawab Ani.

”Kau ingat itu?” tanya ibu. ”Ini uangnya.”



Barangkali kita sering meminta bantuan anak-anak untuk membelikan beberapa barang kebutuhan di toko, warung, kedai, maupun tempat belanja lainnya yang berada di sekitar tempat tinggal kita. Namun ada anak yang tidak mau saat kita suruh berbelanja. Alasannya beragam. Ada yang malu, ada yang bingung, ada yang takut, dan berbagai alasan lainnya.

Selain anak yang tidak mau disuruh, orangtua pun kadang ada yang tak mau menyuruh anak-anak. Mereka juga memiliki beberapa alasan. Antara lain, merasa kasihan, tidak percaya, takut salah beli, dan banyak ketakutan lainnya.

Ini sebenarnya kurang bijak. Menyuruh anak-anak membantu berbelanja atau membelikan sesuatu di warung, kedai, atau toko sesungguhnya memiliki banyak fungsi bagi perkembangan belajar dan kejiwaan anak-anak. Setidaknya ada  tujuh manfaat positif  bagi anak-anak ketika mereka disuruh untuk berbelanja ke warung atau kedai.



Pertama, melatih keberanian

Anak-anak banyak yang merasa takut ketika kita suruh pergi ke luar rumah menuju tempat tertentu. Tidak jelas apa yang ditakutkan. Padahal tempat yang dituju pun tidaklah terlalu jauh. Bahkan masih bisa dilihat dari tempat tinggal kita. Namun tetap saja mereka tidak berani.

Dengan cara kita menyuruhnya membeli sesuatu di warung, sedikit demi sedikit perasaan takut mereka akan hilang. Yang kita butuhkan adalah kesabaran.

Jika anak masih merasa takut, maka di awal-awal kita harus rela menemaninya dahulu. Mengantar sampai ke jalan, kemudian meningkat dengan hanya mengantar sampai di depan rumah hingga akhirnya tanpa perlu diantar.



Kedua, melatih daya ingat

Saat kita bicara, anak-anak akan mencoba memperhatikan pesan yang kita sampaikan. Barang apa saja yang harus dibeli, tentu akan diingatnya. Jikalau pun sampai ada yang terlupakan, itu wajar. Kita tidak perlu khawatir. Sebab jika terjadi kesalahan pada umumnya masih ada kesempatan penukaran barang dengan si penjual.

Awali dulu dengan membawa catatan kecil jika kita memang mengkhawatirkan. Namun demikian usahakan anak-anak tidak menggantungkan sepenuhnya terhadap catatan tersebut. Beri kesempatan anak membuka catatan jika memang tak lagi mampu mengingatnya. Hal terpenting adalah orangtua tidak menyalahkan anak jika terjadi kesalahan.



Ketiga, melatih tanggung jawab

Anak-anak yang kita suruh ke warung atau kedai pada dasarnya tengah kita latih bertanggung jawab. Ia akan mempertanggungjawabkan dengan cara mendapatkan pesanan kita.



Keempat, melatih mengambil keputusan

Melalui perintah untuk pergi ke warung, anak-anak akan mendapatkan pengalaman langsung. Ia akan membeli apa yang dipesankan orangtuanya. Itu jika pesanan terbatas.

Kemungkin juga ada perintah atau pesanan yang sifatnya tidak terbatas.  Misal, orangtua hanya mengatakan, ”Ibu mau bikin roti. Tolong belikan terigu, gula, dan telur, Nak!”

Ini perintah yang bersifat terbuka dan tak terbatas. Perintah seperti itu akan membuat anak memiliki keleluasaan untuk mengambil keputusan sendiri. Ia harus menentukan berapa banyak harus membeli gula, terigu, dan  telur. Ini membutuhkan keputusan tingkat tinggi bagi anak-anak.

Anak-anak yang memiliki pengalaman tentang membuat roti maka akan bisa berpikir berapa banyak harus membeli barang-barang tersebut. Namun sebaliknya, anak-anak yang tak memiliki pengetahuan tentang hal itu maka akan mengalami masalah besar dalam membuat keputusan.

Begitu pula jika melihat besaran uang yang ia terima. Dengan jumlah uang tertentu maka anak-anak akan bisa memutuskan berapa banyak harus membeli barang-barang yang dipesan berdasarkan perkiraan harga barang masing-masing. Di sinilah seni mengambil keputusan bagi anak akan terbentuk.



Kelima, melatih berkomunikasi dan belajar menyampaikan pesan

Anak-anak yang disuruh membeli sesuatu artinya ia harus berlatih berkomunikasi dengan beberapa pihak. Pertama berkomunikasi dengan kita yang memerintah. Ia akan berusaha memperhatikan apa yang kita pesan. Kemudian mengomunikasikan dengan pihak lain. Dalam hal ini adalah penjual, atau pemilik warung.

Dari  mulai ia memberi salam hingga menyampaikan apa saja maksud dan tujuannya. Itu semua adalah bentuk berkomunikasi.

Ada anak yang mampu berkomunikasi dengan baik dan lancar. Ada pula yang sebaliknya. Dengan sering kita menyuruh anak-anak artinya frekuensi berkomunikasi mereka semakin banyak. Dan itu sangat dapat mengurangi rasa malu, takut, dan menambah percaya diri.

Maka dengan sering kita menyuruh anak-anak untuk berbelanja ke warung, tentu anak akan semakin pandai untuk berkomunikasi dan menyampaikan pesan.



Keenam, melatih berhitung

Berbelanja atau membeli sesuatu itu sangat erat terkait dengan aktivitas hitung-menghitung. Berapa pun besarnya angka dan uang.

Anak yang disuruh membeli dua buah sabun mandi dengan harga masing-masing empat ribu lima ratus maka ia akan menghitung berapa kembaliannya jika ia membawa uang sepuluh ribu rupiah.

Apalagi jika harus membeli banyak jenis barang dengan harga yang berbeda-beda. Tentu ia harus mencoba ikut berhitung.

Di sinilah anak akan berproses berhitung, meskipun si penjual sudah berkewajiban menghitungnya.



Ketujuh, belajar mandiri

Anak-anak yang sering kita mintai bantuan untuk berbelanja ke warung memiliki kecenderungan menjadi anak yang mandiri. Anak akan melakukan sendiri saat memerlukan kebutuhan pribadinya. Ia akan membelinya sendiri ke warung atau toko.

Semisal, saat dirinya mendapat tugas membuat keterampilan dari sekolahnya. Begitu membutuhkan peralatan atau bahan maka dengan cekatan ia akan mencari di warung atau toko di sekitar tempat tinggalnya. Tidak merengek meminta diantar orangtuanya hanya untuk mendapatkan lem atau kertas.



Demikianlah, ada banyak manfaat orangtua menyuruh anak-anaknya untuk membantu berbelanja atau membelikan sesuatu di warung, kedai atau pun toko. Oleh karena itu penting kita memberi kepercayaan kepada mereka. Ajari sedikit demi sedikit dan jangan terlalu mengkhawatirkan atau merasa bersalah kepada anak saat menyuruhnya berbelanja ke warung atau toko. Karena hal demikian hanya menjadi penghambat perkembangan anak-anak belaka. (Riyadi – Pendidik di SDN 1 Kediri, Karanglewas, Kabupaten Banyumas, Pegiat literasi di KOMPAK)




Sumber artikel :

Minggu, 29 Maret 2020

Senin, 17 Februari 2020

Ayo Biasakan Berbelanja Di Warung Tetangga

Sejak beberapa bulan terakhir ini publik dibuat heboh di banyak daerah mengenai banyaknya pelanggaran yang dilakukan oleh pelaku bisnis waralaba modern berjejaring. Bukan hanya kecurangan dalam memperoleh perizinan, ada banyak juga kasus bisnis ini tidak mempunyai izin dan berkedok swalayan lokal.

Banyak poster perlawanan di Jogja muncul bahkan di beberapa tempat mendeklarasikan anti terhadap keberadaan pasar ini berkarakter ekspansif ini. Salah satu kelompok ada yang memberikan advokasi kepada pasar dan warung rakyat dengan statemen cukup keras mengenai keberadaan pasar modern dan absennya negara. Setidaknya ada lima hal yang mereka tuntut:

Pertama, Konstitusi Negara mewaajibkan pemerintah memberikan perlindungan kepada segenap bangsa dan seluruh tumpah darah, dengan memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa sehingga pemerintah wajib bekerja keras memajukan kesejahteraan umum dalam arti sebenar-benarnya; 

Kedua, Menyaksikan kenyataan pahit struktur ekonomi-pasar yang timpang, khususnya antara pemilik modal lemah berhadapan dengan pemodal kuat, seperti tampak antara warung rakyat dan pasar tradisional dengan toko modern berjejaring. Kami meyakini bahwa ketimpangan ini terjadi lebih disebabkan kebijakan yang hanya ramah kapitalis dan tidak ramah terhadap usaha-usaha kecil seperti pelapak di pasar tradisional dan warung rakyat. Pemerintah harus mampu meminimalisasi ketimpangan itu dengan secara proaktif memperbaiki kebijakan, melakukan pengkondisian regulatif yang memadai dan memberikan pembekalan manajerial kepada usaha-usaha kecil dalam rangka peningkatan kesejahteraannya.

Ketiga, melihat fakta pahit tentang kepemilikan saham oleh asing atas toko modern berjaringan menjadikan sumberdaya anak negeri kita akan semakin cepat tersedot ke luar negeri. Kelompok usaha kecil yang tidak memiliki kesiapan memadai dan lemahnya daya saing industri lokal serta lemahnya proteksi negara jelas akan digilas oleh pengusaha besar. Mereka kemudian mendesak kepada Pemerintah untuk mencegah terjadinya capital flight yang tidak terkendali, dengan suatu cara yang efektif dan padu, termasuk dengan melakukan upaya social engineering.

Keempat, Keterbukaan ekonomi yang akan mengintrodusir 4 landasan  di dalam ASEAN, yakni:
(1) pasar tunggal dan basis produksi,
(2) membangun kawasan ekonomi yang berdaya saing tinggi,
(3) membangun kawasan dengan ekonomi yang merata,
(4) membangun kawasan dengan integrasi penuh terhadap pereekonomian global.
Dengan argumen ini mereka mendesak kepada Pemerintah beserta segenap institusi organiknya di tingkat mana pun,  untuk tidak mudah larut dalam idealisasi ekonomi neo-liberal dengan terus berupaya membangun untuk kemajuan daerah dengan kearifan lokalnya.

Kelima & yang terakhir, dari temuan FGD ini, ditengarai ada pembiaran oleh Negara yang lamban menyikapi terjadinya pengikisan terhadap kesejahteraan masyarakat, khususnya usaha kecil di pasar tradisional dan warung rakyat disebabkan oleh kehadiran toko modern berjejaring yang bahkan menghalalkan segala cara. Hal ini menuntut Pemerintah untuk mengambil langkah efektif berupa moratorium pemberian ijin terhadap toko modern dimaksud dan bersama-sama pihak-pihak yang menjadi korban untuk merumuskan langkah-langkah lanjutan yang lebih kondusif.

Selain model advokasi formal, ada hal menarik yang dishare dari tulisan seorang ibu rumah tangga biasa di kampung. Ini merupakan bentuk perlawanan damai yang menarik sehingga saya perlu mensharing hal ini yaitu ajakan untuk melakukan Gerakan "Mari berbelanja di warung tetangga !". Tulisannya berikut dinarasikan:

Berbelanja kebutuhan harian, mingguan atau bulanan keluarga, biasanya kita lakukan di hari libur. Tetapi, bijakkah kita bila membeli jauh2 ke pusat belanja "modern" ?

Coba tengok kebiasaan kita ini. Belanja di swalayan IndoMart atau AlfaMart, semua barang memang terpampang. Tapi, hampir tak ada interaksi kemanusiaan. Apalagi pertemanan dan persaudaraan. Bertahun-tahun kita menjadi pelanggan, yang bahkan dibuktikan dengan "kartu pelanggan", tapi sungguh penjualnya tetap tidak kita kenal. Bahkan pelayanpun kita tak tahu siapa, apa dan bagaimana kehidupan mereka. Komunikasi hanya dengan "pelayan", ingat bukan "penjual". Dan hanya seputar transaksi saja. Itupun sekarang diwakili dengan tulisan.

Sementara ketika kita membeli di warung tetangga, selain dekat, juga ada interaksi sosial kemasyarakatan yang akrab. Ada "obrolan", bukan sekedar transaksi barang yang menghilangkan nilai sosial kemanusiaan kita. Kita jadi tahu, kenal dan dekat dapat silaturahmi dengan masyarakat dan lingkungan. Komunikasi beginilah yang manusiawi. Yang menghubungkan antar orang, komunitas dan masyarakat. Bukan sekedar barang, angka penjualan dan plastik kemasan.

Membeli di warung tetangga akan menumbuhkan kekuatan ekonomi keluarga itu. Kita jadi berperan bagi tegaknya ekonomi dan ketahanan sebuah keluarga. Suami, istri dan anak2nya. Dan mereka, berperan sebagai penjual. Berwirausaha. Bukan sekedar menjadi pelayan alias babu dari para pemilik modal kapitalis liberal yg berdalih seragam karyawan...

Bayangkan, sampai umur berapa toko2 modern "mau" mempekerjakan para pelayan ini ? Cuma saat usia muda. Sedang dengan menjadi "penjual", sebenarnya mereka akan "terhidupi" Bahkan sampai anak-anak mereka dewasa.

Belum lagi soal efektifitas budget kita. Bayangkan, saya pernah uji coba, membawa uang 100 ribu dan pergi ke toko swalayan modern. Ternyata kurang! Dan lihat belanjaannya. Saya banyak membeli barang yang tak perlu. Karena godaan iklan dan penataan, saya melakukan pemborosan!

Sedang ketika saya ke warung tetangga, uang 100 ribu masih sisa. Barangnya pun sangat fungsional, benar-benar kebutuhan pokok. Dan saya mendapatkan bonus ungkapan penjual yang membahagiakan, "Alhamdulillah syukur ya, pagi2 sudah ada yang belanja 75 ribu.... makasih ya bu", sambil tersenyum tulus...

Sungguh itu bonus yang lebih mahal daripada sekedar "obral dan diskon ngakali" yang penuh strategi bisnis.

Jadi berpikirlah sebelum berbelanja! Shopping lah di warung tetangga atau pasar tradisional. Nikmatilah sisi kemanusiaan anda. Disitulah "rekreasi sebenarnya". Jangan buang waktu anda di swalayan dan supermall modern hanya untuk membeli kebutuhan pokok rumah tangga anda. Warung tetangga jauh Lebih murah, manusiawi, menumbuhkan ekonomi, memberdayakan masyarakat, dan ada nilai silaturahmi antar tetangga.

Mau umur panjang dan banyak rejeki? Mari biasakan berbelanja di warung tetangga baik kita. Sekali lagi "Ayo selamatkan warung/toko dan pasar tradisional di sekeliling kita". Siapa pun dapat berkontribusi untuk menggelorakan "GERAKAN BELANJA DI WARUNG TETANGGA". Ya, sampai mati !


Tulisan ini disunting dari artikel pada website Kompasiana :
https://www.kompasiana.com/masdavid/56e31f10f692731c1e738ef4/gerakan-belanja-di-warung-tetangga?page=all

Senin, 16 Juli 2018

Catatan Ketika Menginstall Windows10

Sistem Operasi Windows 10 dapat menjadi buggy (atau bermasalah) jika kita tidak berhati-hati dalam menginstall software-software dan men-setting registry-nya. Untuk itu, coba ikuti langkah-langkah berikut ketika menginstall Windows 10 :
- - - - - - -
disable WindowsDefender real-time-protection (Start Menu - Windows Defender Security Center)
- - - - - - -
activate Windows
- - - - - - -
restart
- - - - - - -
change Folder & Search Option : File Explorer - menu File - Change Folder & Search Option
- - - - - - -
install 7zip, WinPatrol, Task Manager Deluxe (TMX)
- - - - - - -
open Local Policy Group Editor (klik kanan start menu - run - 'gpedit.msc')
disable auto update : Local Computer Policy - Computer Configuration - Administrative Templates - All Settings - Configure Automatic Updates - Disabled
disable windows defender : Local Computer Policy - Computer Configuration - Administrative Templates - Windows Components
disable one drive : Local Computer Policy - Computer Configuration - Administrative Templates - Windows Components
- - - - - - -
setup internet connection : connect to a wifi access point / hotspot
- - - - - - -
remove via TMX
~ Service : KMS
~ Startup : Security Health, One Drive
- - - - - - -
restart
- - - - - - -
install Hardwares Driver : klik kanan icon My Computer - Properties - Device Manager, update driver 'Display Adapters', dan instal driver 'Other Devices'
- - - - - - -
restart
- - - - - - -
setting Control Panel
~ auto play
~ date & time
~ power options
~ user accounts
- - - - - - -
setting Windows Settings
~ System
~ devices
~ network & internet
~ personalization
- - - - - - -
(matikan koneksi internet sebelum install software; gunakan hanya jika diperlukan saja)
install software
- - - - - - -
restart
- - - - - - -
remove via TMX
~ Service : ??
~ Startup : ??
- - - - - - -
restart